14 Desember 2011

Kebutuhan Fisik Ibu Hamil Pada Trimester I, II, III meliputi kebutuhan traveling, persiapan laktasi, persiapan persalinan, persiapan kelahiran, dan memantau kesejahteraan janin


PENDAHULUAN


Kehamilan merupakan suatu proses kehidupan seorang wanita, dimana dengan adanya proses ini terjadi perubahan-perubahan. Perubahan tersebut meliputi perubahan fisik, mental dan sosial. Selain kebutuhan psikologis, kebutuhan fisik juga harus diperhatikan agar kehamilan dapat berlangsung dengan aman dan lancar. Kebutuhan fisik yang diperlukan ibu selama hamil meliputi oksigen, nutrisi, peronal hygiene, pakaian, eliminasi, seksual, mobilisasi & body mekanik, exercise/senam hamil, istirahat/tidur, imunisasi, traveling, persiapan laktasi, persiapan kelahiran bayi, memantau kesejahteraan bayi, ketidaknyamanan dan cara mengatasinya, kunjungan ulang, pekerjaan, tanda bahaya dalam kehamilan. Kebutuhan-kebutuhan tersebut akan dibahas satu persatu dalam makalh ini.
            
    kebutuhan Traveling

Wanita hamil harus berhati-hati melakukan perjalanan yang cenderung lama dan melelahkan, karena dapat menimbulkan ketidaknyamanan dan mengakibatkan gangguan sirkulasi serta edema tungkai karena kaki tergantung jika duduk terlalu lama. Sabuk pengaman yang dikenakan dikendaraan jangan sampai menekan perut yang menonjol. Jika mungkin perjalanan yang jauh sebaiknya dilakukan dengan pesawat udara. Ketinggian tidak mempengaruhi kehamilan, bila kehamilan telah 35 minggu ada perusahaan penerbangan yang menolak membawa wanita hamil ada juga yang menerima dengan catatan keterangan dokter yang menyatakan cukup sehat untuk berpergian. Berpergian dapat menimbulkan masalah lain, seperti konstipasi/diare karena asupan makanan dan minuman cenderung berbeda seperti biasanya karena akibat perjalanan yang melelahkan.
Kebutuhan Traveling Pada Ibu Hamil Trimester I, II, III
1.      Boleh asal konsultasi lebih dahulu
2.      waktu terbaik adalah pada usia kehamilan trimester II (minggu ke 13 sampai ke 28)
3.      Trimester I akan menganggu karena mual, kelelahan, resiko abortus
4.      Trimester III akan menganggu karena beban perut makin besar, kelelahan, resiko prematur.

2. Persiapan Laktasi

Persiapan menyusui pada masa kehamilan meripakan hal yang penting karena dengan persiapan dini ibu akan lebih baik dam siap untuk menyusui bayinya. Untuk ibu hamil sebaiknya masuk dalam kelas bimbingan persiapan menyusui (BPM)
 
Suatu pusat pelayanan kesehatan seperti RS, RB dan puskesmas harus mempunyai kebijakan yang berkenaan dengan pelayanan ibu hamil yang menunjang keberhasilan menyusui.
Pelayanan pada BPM terdiri atas :
~ Penyuluhan
ü  Keunggulan ASI
ü  Manfaat rawat gabung
ü  Perawatan puting susu
ü  Perawatan bayi
ü  Gizi ibu hamil dan menyusui
ü  Keluarga berencana

Persiapan psikologis ibu untuk menuyusui pada saat kehamilan sangat berarti, karena keputusan atau sikap yang positif harus sudah terjadi saat kehamilan atau bahkan jauh sebelumnya. Banyak ibu yang memiliki masalah. Oleh karenanya bidan harus dapat membuat ibu tertarik dan simpati.


Langkah – langkah yang harus di ambil dalam mempersiapkan ibu secara kejiwaan untuk menyusui adalah :
1.     Setiap ibu untuk percaya dan yakin bahwa ibu akan sikses dalam menyusui bayinya
2.    Meyakinkan ibu akan keuntungan asi dan kerugian susu buatan/formila
3.    Memecahkan masalah yang timbul dalam menyusui
4.    Mengikutsertakan suami atau anggota keluarga lain yang berperan.
5.    Memberikan kesempatan ibu untuk bertanya.

Pelayanan pemeriksaan payudara, perawatan putting susu dan senam hamil :
          Tujuan pemeriksaan payudara adalah untuk mengetahui lebih dini adanya kelainan, sehingga diharapkan dapat dikoreksi sebelum persalinan. Pemeriksaan payudara dilaksanakan pada kunjungan pertama ibu, dimulai dari inspeksi, dan palpasi.

      
Untuk menunjang keberhasilan menyusui maka pada saat kehamilan putting susu ibu perlu diperiksa kelenturannya dengan cara :
1.     Sebelum dipegang periksa dulu bentuk puting susu
2.    Cubit areola di sisi puting susu dengan ibu jari dan telunjuk

3.    Dengan perlahan putting susu dan areola ditarik, untuk membentuk dot, bila putting susu mudah dirtarik, berarti lentur, Tertarik sedikit berarti kurang lentur, masuk ke dalam berarti berarti putting susu terbenam.

Putiing susu dapat dikoreksi dengan :
1.     Gerakan hofman (sekarang tidak dianjurkan lagi)
2.    Penggunaan pompa putting
Bila pompa putting tidak tersedia dapat dibuat dari modifikasi jarum suntik 10 cc, bagian ujung jarum dipotong dan kemudian pendorong dimasukkan dari arah potongan tersebut. Kemudian tarik putting perlahan sehingga ada tahanan dan dipertahankan selama 30 detik sampai 1 menit. Lakukan beberapa kali dalam sehari.

Langkah – langkah menyusui yang benar :
1.     Sebelum menyusui ASI dikeluarkan sedikit, kemudian dioleskan pada putting susu.
2.    Bayi diletakkan menghadap payudara.
a.    Ibu harus duduk atau berbaring dengan santai. Bila duduk lebih baik menggunakan kursi yang rendah dan punggung ibu bersandar pada kursi
b.    Bayi dipegang pada belakang bahunya dengan satu lengan, kepala bayi terletak pada lengkung siku ( kepala tidak boleh menengadah, dan bokong menengadah, dan bokong bayi ditahan dengan telapak tangan )
c.    Satu tangan bayi diletakkan di belakang badan ibu dan yang satu didepan
d.    Perut bayi menempel badan ibu, badan dan kepala bayi sedikit melengkung sehingga dapat melingkari perut ibu, tidak hanya membelokkan kepala bayi
e.    Kuping dan lengan bayi terletak pada satu garis lurus
f.     Ibu menatap bayi dengan kasih sayang.

3.    Payudara di pegang dengan ibu jari di atas putting dan jari yang lain menopang di bawahnya, jangan menekan putting susu atau areolanya saja seperti memegang rokok.
4.    Bayi diberi rangsangan untuk membuka mulut dengan cara menyentuh pipi atau sudut mulut bayi dengan putting.
5.    Setelah bayi membuka mulut, dengan cepat payudara dimasukkan ke mulut bayi.
a.    Usahakan seluruh areola dapat masuk ke dalam mulut bayi, sehingga putting susu berada di bwah langit-langit dan lidah bayi akan menekan.
b.    Setelah bayi mulai menghisap payudara dengan irama perlahan namun kuat, maka payudara tak perlu dipegang atau disangga lagi.
6.    Melepas isapan
Bila satu payudara telah terasa kosong, jangan biarkan bayi terus menghisa sebab udara akan masuk. Lepaskan isapan dan ganti dengan payudara yang lain.
Cara melepaskan isapan bayi :
a.    Jari kelingking ibu dimasukkan ke mulut bayi melalui sudut mulut atau,
b.    Dagu bayi ditekan ke bawah
7.    Setelah menyusui, ASI dikeluarkan sedikit, kemudian di oleskan pada putting susu.


3. Persiapan Persalinan Pada Ibu Hamil Trimester I, II, III
a. Membuat rencana persalinan
1) Tempat persalinan
2) Memilih tenaga kesehatan terlatih
3) Bagaimana menghubungi tenaga kesehatan tersebut
4) Bagaimana transportasi ke tempat persalinan
5) Siapa yang akan menemani saat persalinan

6) Berapa banyak biaya yang dibutuhkan dan bagaimana cara mengumpulkan biaya tersebut
7) Siapa yang akan menjaga keluarganya jika ibu tidak ada
b. Membuat rencana untuk pengambilan keputusan jika terjadi kegawatdaruratan pada saat pengambilan keputusan tidak ada
c. Mempersiapkan sistem transportasi jika terjadi kegawatdaruratan
d. Membuat rencana/pola menabung
e. Mempersiapkan peralatan yang diperlukan untuk persalinan
4. Persiapan kelahiran bayi
              Ada 5 komponen penting dalam rencana kehamilan
Langkah I : Membuat rencana persalinan

Idealnya setiap keluarga mempunyai kesempatan untuk membuat suatu rencana persalinan. Hal-hal di bawah ini haruslah digali dan diputuskan dalam membuat rencana persalinan tersebut :
·         Tempat persalinan
·         Memilih tenaga kesehatan terlatih
·         Bagaimana menghubungi tenaga kesehatan tersebut
·         Bagaimana transportasi ke tempat persalinan
·         Berapa banyak biaya yang dibutuhkan dan bagaimana cara
mengumpulkan biaya tersebut
·         Siapa yang akan menjaga keluarganya jika ibu tidak ada

Langkah II : Membuat rencana untuk pengambilan keputusan jika terjadi kegawatdaruratan pada saat pengambil keputusan tidak ada.
Penting bagi bidan dan keluarga untuk mendiskusikan :
·         Siapa pembuat keputusan utama dalam keluarga ?
·         Siapa yang akan membuat keputusan jika pembuat keputusan utama
tidak ada saat terjadi kegawatdaruratan ?


Langkah III : Mempersiapkan sistem transportasi jika terjadi kegawatdaruratan
Setiap keluarga seharusnya mempunyai rencana transportasi untuk ibu, jika ia mengalami komplikasi dan perlu segera di rujuk ke tingkat asuhan yang lebih tinggi. Rencana ini perlu dipersiapkan lebih dini dalam kehamilan dan harus terdiri dari elemen-elemen di bawah ini :
·         Dimana ibu akan bersalin (Desa, fasilitas kesehatan, rumah sakit).
·          Bagaimana cara menjangkau tingkat asuhan yang lebih lanjut jika terjadi kegawatdaruratan Bagaimana cara mencari donor darah yang potensial

Langkah IV : Membuat rencana/pola menabung
Keluarga seharusnya dianjurkan untuk menabung sejumlah uang sehingga dana akan tersedia untuk asuhan selama kehamilan dan jika terjadi kegawatdaruratan. Banyak sekali kasus, dimana ibu tidak mencari asuhan atau mendapatkan asuhan karena mereka tidak mempunyai dana yang diperlukan.

Langkah V : Mempersiapkan langkah yang diperlukan untuk persalinan
Seorang ibu dapat mempersiapkan segala sesuatunya untuk persalinan. Ia dan keluarganya dapat mengumpulkan barang-barang seperti pembalut wanita atau kain, sabun, seprai dan menyimpannya untuk persiapan persalinan.
5. MEMANTAU KESEJAHTERAAN JANIN
Biasanya pada ibu hamil trimester pertama belum terlalu memperhatikan tentang perkembangan janin mereka. Namun baru pada trimester dua ibu hamil lebih memperhatikan janin mereka dengan memantau perkembangannya. Contohnya seperti pemeriksaan USG. Ibu itu dapat melihat gerakan janin yang ada di perut mereka baik dengan 3 dimensi maupun 4 dimensi. Jika terjadi ketidak normalan pada janin merekapun dapat terlihat sehingga dapat untuk mengetahui sejak awal.
Selain itu ibu hamil juga bisa memantaunya dengan cara memeriksa pada bidan, di situ akan diperiksa leopold dan akan didengar DJJ oleh bidan. Selain itu ibu hamil dapat berkonsultasi baik keluhan maupun saran kepada ibu bidan.


Ibu hamilpun dapat memantau tumbuh kembang janinnya sendiri dengan cara lebih memperhatikan makanannya apakah sudah cukup gizi atau belum. Pola istirahat pun dapat lebih dijaga karena sebaiknya ibu hamil tidak boleh terlalu lelah, faktor lingkungan yang bersih dan nyaman pun sangat diperluka bagi ibu hamil.

DAFTAR PUSTAKA


Buku Sumber :
1.     Varney, Helen. 1997. Varney Midwifery.
2.    Hamilton, Persis Mary. Dasar-Dasar Keperawatan Maternitas. Jakarta.EGC.
3.    Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis Obstetri. Jakarta. EGC Maternitas. Jakarta. EGC.
4.    Bobak. 2005. Keperawatan Maternitas. Jakarta. EGC.
5.     Depkes RI. 2001. Pengenalan Tanda Bahaya pada Kehamilan Persalinan
 Dan Nifas. Jakarta.
6.    Maternal Dan Neonatal. Jakarta. YBP-SP.
7.    Cunningham et al. 1995. Obstetri William. Jakarta. EGC.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar